Bahasa/Language

Rabu, 19 Maret 2014

JINGGA TERAKHIR - Radar Madura (Jawa Pos), edisi : 26 Mei 2013

JINGGA TERAKHIR
(Benny Can)

Langkah menyusuri jalan dalam hina sepi tak berujung hingga jejak pun engan menunjuk arah. Debur ombak enggan mengungkapkan sebaris kalimat pasti sekedar teduhkan jiwa. Seperti telunjuk, menghitung asah yang tak mengasah maksud hanya merajam ingin seperti awan pekat menyelimuti langit yang akan jingga.
Adalah tatapan kosong sesekali menatapi perahu dan geliat orang hilir mudik di pelabuhan dan aku menantikan seperti seharusnya sore ini adalah paras wajah melukiskan jingga untuk mengarak matahari. Terkadang, tak hirau panggil menyapa dan hanya larut dalam pandangan kereta awan beriring bergemuruh membentang menggaris langit pelabuhan.
“Tunggu di pelabuhan samapai tiga hari jingga dan aku akan menanyakan cinta dan ketulusannya,” Ucapnya pesan terakhir di fb (facebook).
Kata itulah  yang menjadikan kekuatan untuk tetap berdiri sampai saat ini dan hari ini adalah terakhir dimana hari pengadilan untuk menghadapi kenyataan yang harus dijalani. Aku hanya bisa berharap dia datang membawa senyum seperti sapa manja teduhkan jiwa bersama memandangi jingga menutup hari.
Matahari seolah lelah berarak dan tak menampakkan sinar, lebih memilih membelakangi awan pekat untuk memberikan kesempatan hujan mengguyur hingga tak akan terjumpai jingga di hari ini.
Suasana itulah membuat aku memilih berteduh dalam warung kosong demi menghindar dari derasnya hujan yang seakan membuyarkan harapan seperti seharusnya terjadi seindah yang teralami dan terjalin di fb.
Pandangan hanya bisa menatap hujan menari, sesaat itu perahu mulai menampakkan tiang seolah enggan menyaksikan karena penumpangnya tak ingin terlarut dalam tarian hujan dimana mereka takut gemuruh membuyarkan semua apa yang menjadi tujuannya. Bising suara mesin perahu mulai mengusik menyadarkan bahwasanya aku harus menghadapi kenyataan waktu hanya tinggal sesaat dan malam mulai bersiap menyambut mentari untuk menina bobokkanya.
Sandarpun perahu, sesaat itu keramaian penumpang untuk secepat mungkin meninggalkan perahu dan menuju mobil yang telah berjejer menunggu penumpang menaikinya. secepat itu aku pandangi penumpang memungkinkan untuk melihat wajah seperti foto yang ada di fb.
“Permisi numpang berteduh,” Ucap dua orang penumpang.
          Dua orang penumpang dengan memakai jaket demi sesaat menghindar dari hujan dan duduk satu warung denganku. sesaat itupun kami terjalin pembicaraan menambah keakraban.
          Tak lama kemudia salah satu dari mereka ada yang menjemput dan tinggallah aku dan seorang wanita yang masih memakai jaket dan penutup kepalanya yang seolah tak ingin sedikitpun badannya tersetuh atau disentuh hujan.
“Ma’af, anda sendiri nungguin siapa?“ tanyaku.
“Nunggui seseorang yang aku janjikan untuk bertemu di sini, Mas sendiri?” Sahutnya.
“Aku menunggu seseorang yang memberi pesan bahawasanya di dermaga ini dia akan datang dalam tiga kali jingga dan ini adalah hari terakhir aku menunggunya” jawabku.
Sesaat itu dia Menatapku seolah ada sesuatu hal yang kelihatan aneh denganku dan seolah ingin tahu tentang kisah hingga aku bisa beda di tempat ini. Dan dari itu kita saling berbincang untuk membiarkan tanpa hirau hujan yang turun. Dari perbincangan itu aku bercerita banyak mengapa tetap bertahan disini setelah dua hari sebelumnya tak menemui yang ditunggu.
“Aneh banget ya Mas ceritanya, tapi mengharukan juga untuk menikmatinya” Ucapnya sambil tersenyum.
“Maksudmu,” Tanyaku.
Sesaat itu terdengar suara azan yang menggema dan menyadarkan bahwasanya tanpa terasa jingga telah berakhir, semua yang menjadi pengharapan sirna dan ini hanya cinta tapa temu tanpa sentu yang telah terjadi.
“Ma’af, saya duluan pulang karena jingga dan cinta kali ini tak memihak padaku.”
“Apakah Mas menyesali yang telah terjadi,” tanyanya.
“Entahlah, tapi aku tak ingin menyesali yang telah terjadi dan aku hanya ingin cepat pulang untuk menanyakan cinta dan kesungguhanya” jawabku.
Dari itu aku pun pulang dan cepat menuju kamarku utuk mengambil lapto membuka fb.
“Jingga itu takkan perna bohong dan jingga itu takkan berpura, walupun mendung menutupi dan hujan menghalangi, dia itu tetap ada mengarak mentari menyambutkan malam pada bintang-bintang. Kembalilah karena cinta dan nyata itu ada sebelum kau pertanyakan. di sini jingga itu telah mempertemukan aku denganmu. aku menunggu di tempatmu berteduh dan gadis yang kau jumpai itu adalah aku,” pesanya dalam fb.
Sesaat itupun aku beranjak dan kembali ke pelabuhan untuk menemuinya menjadikan malam ini untuk menunggui bintang menjadi saksinya.
“Aku ini dimana, apakah ini hanya mimpi dan kamu?” tanyaku pada gadis yang tersenyum melihat kau tersadar.
“Aku jingga itu dan cintamu, kamu tadi jatuh dari sepeda motor di pelabuhan sebelum menemuiku dan ini dirumah sakit, dan tenangglah, aku akan menemani malammu,” sahutnya.
Aku dan dia hanya bisa bersyukur atas apa yang telah terjadi hingga cinta itu benar adanya dan untuk kita merasakannya dalam nyatanya dunia ini. Kita melawati malam dengan membuka jendela untuk beintang mengintip menjadi siksa bahwa cinta itu adil.